Bismillahirrahmanirrahim...
Senin, 9 November 2020
Membersamai anak-anak adalah hal yang sangat luar biasa bagi seorang ibu.
Aku bersyukur kini punya waktu yang sangat banyak untuk berkumpul dengan mereka.
Kurang lebih 12 tahun aku mengajar, lalu di tahun 2017 aku memutuskan untuk resign dari profesiku sebagai guru dan dosen fisika di sebuah politeknik swasta yang cukup besar di kota ku.
Banyak pertimbangan ketika aku memutuskan untuk resign, dan salah satunya tentu karena aku ingin lebih banyak membersamai anak-anakku.
Waktu itu, ketika aku masih beraktivitas mengajar di sekolah dan di kampus, aku selalu iri pada mereka, ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Mereka bisa full 24 jam berada di dekat anak-anaknya, sedangkan aku...
Alhamdulillah, Allah memantapkan hatiku untuk resign dari tempat kerja saat usia anak keduaku menginjak bulan ke empat. Anak keduaku itu terlahir prematur dengan proses sesar. Badannya kecil sekali, lahir dengan BB 2,2 kg.
Hari pertama aku masuk kantor pikiranku langsung menuju ke anak-anakku yang masih kecil-kecil. Hampir tiap menit aku menghubungi adikku yang kebetulan waktu itu ada di rumah bersama Nyai Inah, sepupu yang biasa membantuku menjaga anak-anakku.
Awalnya semua baik-baik saja. Aku berangkat ke tempat kerja pun waktu itu anak-anak masih tidur semua.
"Mba, anak-anak nangis semua. Kasihan banget mba. Mba pulang saja secepatnya."
SMS dari adikku itu segera membuyarkan seluruh konsentrasiku. Ini baru hari pertama, bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Apa aku tega?
Dulu anak pertamaku (Allan namanya), aku berikan ASI perah saat aku berangkat kerja. Alhamdulillah Allan lahir dengan proses normal dan BB 2,7 kg, termasuk anak yang normal, tidak memerlukan perlakuan khusus.
Tapi bagaimana dengan Hasna Qonita anak keduaku yang terlahir prematur? Tegakah aku memberikan ASIku dengan cara perah juga? Sedangkan dia butuh perhatian yang lebih, butuh dukungan yang lebih dari kedua orang tuanya. Ya Robb...
Akhirnya siang itu juga, ditahun ajaran baru 2017, aku putuskan untuk resign. Aku telpon suamiku yang berada di Pekalongan, dan kemudian aku pun segera membuat surat pengunduran diriku.
Hari-hari awal aku berada di rumah memang terasa cukup berat. Tapi saat kulihat anak-anakku yang memang sangat butuh dekat denganku, aku pun kembali tenang dan bahagia.
Alhamdulillahirobbil'alamin... Allah telah mengabulkan doaku untuk aku bisa lebih banyak dekat dengan anak-anakku.
Alhamdulillah... Aku merasa puas... Sekali. Dan aku sudah merasa tidak bersalah lagi pada anak-anakku karena harus aku tinggalkan karena ke tempat kerjaku.
Ya Allah... Jadikanlah aku ibu yang baik, ibu yang shaleha, ibu yang bisa dijadikan sebagai suri tauladan bagi anak-anakku, ibu selalu mampu mengontrol emosi di manapun dan kapanpun aku berada. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar