Rabu, 11 November 2020

Anak Pertama

Tegal, 11 November 2020

Sejak mengetahui bahwa aku tengah mengandung anak pertama, yaitu pada tanggal 6 Januari 2014, nafsu makanku seperti hilang tak tersisa. Bau nasi atau masakan apapun selalu membuatku mual hingga muntah. Serasa tersiksa mungkin iya, tapi ketika aku ingat lagi bahwa ini adalah hal yang wajar bagi ibu hamil, maka aku pun coba untuk menjalaninya dengan suka cita.

Tak bisa makan nasi, tapi perut laper. Yang bisa masuk adalah air, minuman. Alhasil saat aku merasa lapar, aku pun segera meminum susu ibu hamil atau membuat minuman sari kurma.

Makanan yang bisa masuk adalah tela madu alias ubi Cilembu. Ya Allah... Merasakan hal seperti itu tuh rasanya susah diungkapkan dengan kata-kata, luar biasa banget deh.

Bulan Januari 2014, berat badanku 46 kg. Bulan Februari jadi 45 kg, dan bulan Maret jadi 43 kg. Tiap bulan berat badanku turun, nafsu makan semakin habis tidak karuan. Ini aku beneran hamil gak sih? Bukankah kalo orang hamil biasanya berat badannya naik? Kenapa aku semakin turun terus di tiap bulannya? Maka bulan ke tiga itu aku periksa di bidan Rugayah (Griya Hamil Sehat) Mejasem. Aku tahu beliau dari Dina, sahabatku yang sudah berpengalaman periksa di situ.

Saat itu bidan rigayRu memperlihatkan gambar USG yang menunjukkan pergerakan janin. Kecil sekali memang, tapi sangat lincah bahkan berguling-guling seperti orang sedang salto. Masya Allah...

Alhamdulillah... Ternyata memang beneran aku lagi hamil, jadi lebih tenang rasanya hati ini.

Teman mengajar di tempat kerjaku setidaknya ada empat orang yang sedang hamil sepertiku dan qodarullah keempat-empatnya keguruan semua. Ya Robbi... Terasa horor sekali. Padahal nih, diantara kami semua, kalo gak salah malah sebenarnya aku yang paling ribet hamilnya, karena keempat temenku itu kayaknya hamilnya ngebo alias doyan makan banget. Mereka makan apa saja masuk, bau masakan apapun tak masalah, makan dengan lahapnya, sedangkan aku?  Hm... Malah kala itu aku bersyukur karena meski gak doyan makan, meski berat badan turun drastis seperti terjun bebas, meski wajahku cukup pucat dan bibir seperti membiru, tapi syukur Alhamdulillah, janinku masih selamat. Kini aku bersyukur diberi ujian gak doyan makan. Gak papa berjuang seperti orang mau mati saat perut lapar sekali, tidak karuan banget rasanya, tapi kemudian bingung apa yang bisa masuk ke mulut, tak apalah perjuangan itu terlalui, yang penting aku dan janinku tetap selamat. Amin. 

Mendengar kabar satu persatu dari teman-temanku itu keguguran, cukup horor dan bikin deg-degan sebenarnya. Tapi kemudian aku mencoba untuk tetap tenang dan tambah berhati-hati dalam bertindak. Aku tidak berani naik motor sendiri kemanapun, alhamdulillah saat itu adikku Feri, dan bapakku, selalu siap siaga saat aku minta diantar ke sekolah tempat aku mebgajar atau kemanapun.

Tiap bulan kontrol di bidan dekat rumah, lalu setelah

HPL (hari perkiraan lahir) anak pertamaku itu adalah tanggal 8 September 2014, dan aku mulai mengajukan cuti per tanggal 1 September agar menghitungnya lebih mudah.

Kontrol ke bidan dekat rumah. Beliau bercerita bahwa orang yang HPL nya sama denganku, katanya sudah melahirkan. Bahkan banyak juga orang yang hpl nya lebih jauh dariku tapi mereka sudah melahirkan juga. Saat itu aku berpikir, aku mulai cuti tanggal 1 September, lah lahirnya nanti sajalah kalo aku sudah cuti, semoga bisa, semoga Allah mengabulkan doaku, amin.

Salah seorang teman guru yang mengajar di SMK Insan Mulia Kramat pernah berkata, 

"Dede yang dikandungan sering diajak bicara Bu, dielus-elus, Insya Allah dia mendengar dan mengerti."

Masya Allah... Ternyata benar sekali. Aku terus berdoa kepada Allah dan juga mengajak di debay bicara,
"Nak, sabar dulu ya, kamu lahirnya nanti ya setelah melewati tanggal satu, soalnya Mama cutinya tanggal satu septembSe, tolong bantu Mama ya nak," sembari tak elus-elus, aku berkata pada janin yang ada di dalam rahimku.

Tanggal 1 September 2014, aku mulai cuti, dan alhamdulillah si dede, anak pertama kami itu lahir tanggal 3 September 2014

Selasa, 10 November 2020

Garis Dua yang Dinanti


 Tegal, 10 November 2020

Aku dan suamiku menikah pada bulan Oktober 2013. Saking penasarannya, waktu bulan November tiba, dengan penuh semangat aku membeli tespek alias alat pendeteksi kehamilan, padahal waktu itu aku belum telat haid, wkwkwk...

Dan hasilnya... Garis satu. Antara pengen tertawa dan entahlah apa yang ada dalam pikiranku waktu itu. Lha wong memang belum waktunya haid kok yo wis dites? 😁

Bulan Desember. Aku kembali membeli tespek. Aku cek lagi karena seharusnya tanggal itu aku sudah haid. Dan hasilnya... Negatif. Hm... Tapi kok belum haid ya? Eh... Ternyata siangnya aku haid. Berarti aku memang belum telat haid, wkwkwk...

Bulan berikutnya. Januari 2014. Aku sudah males tes-tesan. Kalo hasilnya negatif lagi, rasane tuh gemremet gimana gitu, wkwkwk... Pasrah ajalah.

Saat itu pola berpikirku sudah berubah. Aku tidak ingin ngoyo lagi pengen cepat-cepat hamil. Benar-benar menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah ta'ala. Ketika sudah waktunya tiba, Insya Allah nanti aku juga hamil. Amin.

Awal Januari 2014, ada bazar di Pekalongan. Suamiku bekerja di kota batik itu. Sebagai penggemar buku, tentu saja aku sangat ingin berburu buku di sana. Maka, siang itu aku berangkat naik bus ke Pekalongan. Awalnya suamiku melarang saat kumintai ijin lewat SMS. Tapi... Hatiku sungguh tak bisa tenang. Ini mumpung ada bazar. Biasanya harganya lebih murah. Belum tentu tiap tahun ada bazar, terlebih di Tegal tempat tinggalku, teramat sangat jarang sekali. Ini mumpung ada di Pekalongan, bukankah suamiku kerja di sana? Seharusnya dia senang ketika aku kesana.

Maka dengan nekad aku pun berangkat ke sana. Waktu itu aku belum haid, tapi aku mengabaikannya karena tidak ingin kecewa lagi, kikikikiki....

Alhamdulillah... Setelah sampai di Pekalongan, akhirnya suamiku menjemputku dan mengantarku ke tempat bazar buku.

Entah berapa banyak buku yang aku beli waktu itu, aku sampai lupa. Yang jelas, waktu itu aku membeli buku karya mba Asma Nadia, mba Oki Setiana Dewi, dan yang paling fenomenal dan tidak kusangka adalah aku mendapatkan buku legendaris karya Buya Hamka yang berjudul "tenggelamnya kapal Van der Wijck". Masya Allah... Sungguh aku sama sekali tidak menyangka bahwa di bazar itulah aku menemukan buku yang memang sangat aku incar itu. Masya Allah.. 

Pulang ke Tegal. Aku beraktivitas seperti biasa. Aku masih ragu dengan ketidakhadiran si tamu merah alias haid. Hingga satu Minggu berlalu, aku mulai curiga. Aku pun memberanikan diri membeli tespek sambil terus berdoa meski kepasrahan memenuhi jiwa. Aku benar-benar berdoa agar diberikan kelapangan dada jika hasilnya pun kembali negatif.

Alhamdulillah, Masya Allah... Allahuakbar. Ternyata garis dua itu muncul. Itulah pertama kalinya garis dua bewarna merah muncul dalam kehidupan kami.

Hari Pahlawan - Para Pahlawan Baru


 Tegal, 10 November 2020

Hari pahlawan, ditetapkan pada tanggal 10 November. Di tahun ini, tahun 2020, telah muncul pahlawan-pahlawan baru dan seluruh dunia. Siapakah pahlawan-pahlawan itu?

Maret 2020, Indonesia mulai terkena dampak virus Corona atau yang biasa disebut Covid-19.

Awalnya yang terjangkit virus itu hanya segelintir orang di Indonesia, dan sebagian besar dari mereka adalah karena telah melakukan perjalanan ke luar negeri. Maka dengan sigap pemerintah Indonesia pun menutup seluruh penerbangan dari luar negeri. Para pelancong dihimbau untuk segera pulang ke tanah air sebelum seluruh bandara di tutup.

Virus yang awalnya muncul di daerah Wuhan China itu kini terus menyebar ke seluruh dunia. Astaghfirullahal'adzim...

Di negara-negara Eropa dan Amerika, virus itu menyebar dengan sangat cepatnya, bahkan telah menewaskan banyak sekali manusia. Jumlah yang meninggal di negara-negara itu melebihi jumlah yang meninggal dari sumber asal virus itu muncul, yaitu China.

Indonesia pun melakukan kebijakan lock down. Semua instansi bekerja dari rumah. Sekolah pun memakai sistem daring alias dalam jaringan. Online dari rumah.

Kembali pada hari pahlawan.

Dalam memerangi keganasan virus itu, tenaga medis adalah yang terdepan dalam penanganannya. Mereka harus bekerja lebih ekstra keras dan berangkat tak kenal lelah, di saat yang lain justru dihimbau untuk tetap berada di dalam rumah.

Mereka itu, para tenaga medis itu, harus mengenakan APD (alat pelindung diri) yang luar biasa panasnya. Apalagi saat kemarin bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ya Robb... Betapa berat dan betapa mulianya pekerjaan serta hati mereka itu.

Tak sedikit korban berjatuhan dari kalangan mereka. Karena mereka harus berinteraksi langsung dengan pasien penderita Covid-19. Astaghfirullahal'adzim...

Kangen, rindu dengan keluarga dan anak... Ya Robb... Ingin rasanya aku memeluk mereka. Memeluk dalam doa yang semoga dapat memberikan suntikan semangat dalam hati mereka. Dan keluarga mereka... Semoga Allah kuatkan dan berikan kesabaran yang luar biasa kepada mereka karena telah rela melepaskan salah satu anggota keluarga mereka untuk berjuang memerangi virus yang tak terlihat wujudnya itu.

Merekalah para pahlawan baru. Semoga Allah selalu menguatkan kalian, menyehatkan kalian, dan memberikan semangat yang luar biasa kepada kalian. Amin

Kerja atau Resign dari Tempat Kerja


Bismillahirrahmanirrahim...

Senin, 9 November 2020

Membersamai anak-anak adalah hal yang sangat luar biasa bagi seorang ibu.

Aku bersyukur kini punya waktu yang sangat banyak untuk berkumpul dengan mereka.

Kurang lebih 12 tahun aku mengajar, lalu di tahun 2017 aku memutuskan untuk resign dari profesiku sebagai guru dan dosen fisika di sebuah politeknik swasta yang cukup besar di kota ku.

Banyak pertimbangan ketika aku memutuskan untuk resign, dan salah satunya tentu karena aku ingin lebih banyak membersamai anak-anakku.

Waktu itu, ketika aku masih beraktivitas mengajar di sekolah dan di kampus, aku selalu iri pada mereka, ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Mereka bisa full 24 jam berada di dekat anak-anaknya, sedangkan aku...

Alhamdulillah, Allah memantapkan hatiku untuk resign dari tempat kerja saat usia anak keduaku menginjak bulan ke empat. Anak keduaku itu terlahir prematur dengan proses sesar. Badannya kecil sekali, lahir dengan BB 2,2 kg.

Hari pertama aku masuk kantor pikiranku langsung menuju ke anak-anakku yang masih kecil-kecil. Hampir tiap menit aku menghubungi adikku yang kebetulan waktu itu ada di rumah bersama Nyai Inah, sepupu yang biasa membantuku menjaga anak-anakku.

Awalnya semua baik-baik saja. Aku berangkat ke tempat kerja pun waktu itu anak-anak masih tidur semua.

"Mba, anak-anak nangis semua. Kasihan banget mba. Mba pulang saja secepatnya."

SMS dari adikku itu segera membuyarkan seluruh konsentrasiku. Ini baru hari pertama, bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Apa aku tega? 

Dulu anak pertamaku (Allan namanya), aku berikan ASI perah saat aku berangkat kerja. Alhamdulillah Allan lahir dengan proses normal dan BB 2,7 kg, termasuk anak yang normal, tidak memerlukan perlakuan khusus.

Tapi bagaimana dengan Hasna Qonita anak keduaku yang terlahir prematur? Tegakah aku memberikan ASIku dengan cara perah juga? Sedangkan dia butuh perhatian yang lebih, butuh dukungan yang lebih dari kedua orang tuanya. Ya Robb...

Akhirnya siang itu juga, ditahun ajaran baru 2017, aku putuskan untuk resign. Aku telpon suamiku yang berada di Pekalongan, dan kemudian aku pun segera membuat surat pengunduran diriku.

Hari-hari awal aku berada di rumah memang terasa cukup berat. Tapi saat kulihat anak-anakku yang memang sangat butuh dekat denganku, aku pun kembali tenang dan bahagia. 

Alhamdulillahirobbil'alamin... Allah telah mengabulkan doaku untuk aku bisa lebih banyak dekat dengan anak-anakku.

Alhamdulillah... Aku merasa puas... Sekali. Dan aku sudah merasa tidak bersalah lagi pada anak-anakku karena harus aku tinggalkan karena ke tempat kerjaku.

Ya Allah... Jadikanlah aku ibu yang baik, ibu yang shaleha, ibu yang bisa dijadikan sebagai suri tauladan bagi anak-anakku, ibu selalu mampu mengontrol emosi di manapun dan kapanpun aku berada. Amin

Senin, 09 November 2020

Pemulung yang Rajin Membaca Al Qur'an


 Pertama aku tahu info itu, aku langsung tertarik. Dan ternyata Masya Allah...

Yuk simak info lebih lanjut tentang dia, seorang pemulung yang fotonya sempat viral di sosmed.

ALANGKAH INDAHNYA CARA ALLAH MEMULIAKAN HAMBA-NYA YANG MENCINTAI AL-QURAN 


Muhammad Ghifari Akbar, meski dengan berat hati dan terpaksa, kakek dan nenekmu yang tergolong fakir miskin itu akhirnya mengizinkanmu pergi merantau untuk cari kerja. Tapi, dengan syarat, kau tidak boleh meninggalkan sholat dan agar selalu membaca Al-Quran.


Maka, dengan tekad mencari kehidupan yang lebih baik untuk diri dan keluargamu, kaupun berangkat meninggalkan kampungmu di Garut dan berjalan kaki menuju Kota Bandung.


Setelah sampai di Kota Bandung, kau ikhtiar kesana kemari untuk cari kerja dengan hanya bermodal tekad kerja apa saja yg penting halal.


Tapi, berhari-hari kau ikhtiar, keberuntungan belum menghampirimu. Maka, sambil terus ikhtiar cari kerja, kaupun berinisiatif memanfaatkan waktu dengan memulung barang bekas yang hasilnya bisa untuk sekadar makan di warteg.


Akhirnya, kau jalani hari-hari di seputar Kota Bandung dg aktivitas cari kerja dan memulung serta tidur di emperan toko. Hingga suatu hari di Jalan Braga yg romantis itu, kau berteduh dari rintik hujan sambil membaca Al-Quran, dan seseorang dengan diam-diam memotretmu lalu meng-upload fotomu di media sosial.


Tak dinyana, fotomu yang memang fenomenal itu pun viral. Beberapa aktivis sosial dari Yayasan Al Hilal mencoba mencari keberadaanmu di pusat Kota Bandung dan sekitarnya, namun tak berhasil menemukanmu. Tapi, jika ALLAH telah menetapkan satu kebaikan bagi seorang hambaNYA, tak ada sesuatupun yang dapat menghalangi.


Karena belum berhasil menemukanmu, Tim Relawan Al-Hilal kemudian berangkat menuju ke kota Subang untuk keperluan kegiatan sosial yang lain. Dan saat melewati satu jalan di Lembang, ada anggota Tim Relawan yang melihatmu dan mengenali ciri-ciri fisikmu sesuai foto yang viral di medsos itu.


Ternyata benar itu dirimu adanya. Ternyata engkau sudah hijrah dari Kota Bandung ke Lembang dengan harapan dapat kerja di kota dingin itu.


Lalu, Tim Relawan Al-Hilal pun mengajakmu kembali ke Kota Bandung dan menginap Ponpes Al Hilal. Kemudian, pengurus Yayasan Al Hilal mengambil langkah-langkah untuk membantumu. Kaupun diantar pulang ke kampungmu di Garut, dengan maksud untuk meminta izin kepada kakek nenekmu, yang mana kau akan disekolahkan di pondok pesantren Tahfidz Alqur'an dengan difasilitasi oleh Yayasan Al-Hilal, sekaligus untuk menyampaikan bantuan sembako serta bantuan dana bagi kakek dan nenekmu.


Memang, sebelum Tim Relawan Al-Hilal menemukanmu, cukup banyak pihak yang menyatakan ingin membantumu agar bisa melanjutkan pendidikan dan bisa masuk pondok pesantren. Bahkan, sebuah Pondok Pesantren Tahfidz di Jakarta melalui akun media sosialnya meminta tolong kepada siapa saja yang mengetahui dimana keberadaanmu, untuk memberitahu pihak mereka. Krn Ponpes itu sudah menyediakan satu kursi kosong khusus untukmu. Dimana seluruh biaya pendidikan dan biaya pemondokanmu di ponpes itu akan dijamin full gratis sampai engkau menyelesaikan pendidikanmu di sana dan menjadi seorang Hafidz.


Ternyata ganjaran kebaikan bagimu dari DIA Yang Maha Baik belum berhenti sampai disitu. Redaksi TVOne tertarik untuk mewancaraimu. Dan sore tadi, dengan secara live, dirimu diwawancara jarak jauh serta disandingkan dengan nara sumber lain, seorang Ulama yang cukup mahsyur di negeri ini, Syekh Ali Jaber.


Yang tak terduga pun terjadi. Diakhir wawancara, Syekh Ali Jaber memohon kepadamu agar bersedia menjadi anak angkat beliau dan bersedia untuk dididik secara langsung oleh beliau sekaligus akan diurus oleh beliau agar dirimu bisa mengenyam pendidikan Al-Quran di tempat turunnya, di Makkah atau di Madinah. Dan dengan kata terbata haru, kaupun menyatakan menerima permohonan calon abi angkatmu itu.


MashaaALLAH ❤


Barakallah untuk keduanya..

Semoga ALLAH menbahagiakan keduanya di dunia

dan akhirat, Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🏻❤

Aamiin Ya Rabbl'alamiin


(Copas)