Sejak mengetahui bahwa aku tengah mengandung anak pertama, yaitu pada tanggal 6 Januari 2014, nafsu makanku seperti hilang tak tersisa. Bau nasi atau masakan apapun selalu membuatku mual hingga muntah. Serasa tersiksa mungkin iya, tapi ketika aku ingat lagi bahwa ini adalah hal yang wajar bagi ibu hamil, maka aku pun coba untuk menjalaninya dengan suka cita.
Tak bisa makan nasi, tapi perut laper. Yang bisa masuk adalah air, minuman. Alhasil saat aku merasa lapar, aku pun segera meminum susu ibu hamil atau membuat minuman sari kurma.
Makanan yang bisa masuk adalah tela madu alias ubi Cilembu. Ya Allah... Merasakan hal seperti itu tuh rasanya susah diungkapkan dengan kata-kata, luar biasa banget deh.
Bulan Januari 2014, berat badanku 46 kg. Bulan Februari jadi 45 kg, dan bulan Maret jadi 43 kg. Tiap bulan berat badanku turun, nafsu makan semakin habis tidak karuan. Ini aku beneran hamil gak sih? Bukankah kalo orang hamil biasanya berat badannya naik? Kenapa aku semakin turun terus di tiap bulannya? Maka bulan ke tiga itu aku periksa di bidan Rugayah (Griya Hamil Sehat) Mejasem. Aku tahu beliau dari Dina, sahabatku yang sudah berpengalaman periksa di situ.
Saat itu bidan rigayRu memperlihatkan gambar USG yang menunjukkan pergerakan janin. Kecil sekali memang, tapi sangat lincah bahkan berguling-guling seperti orang sedang salto. Masya Allah...
Alhamdulillah... Ternyata memang beneran aku lagi hamil, jadi lebih tenang rasanya hati ini.
Teman mengajar di tempat kerjaku setidaknya ada empat orang yang sedang hamil sepertiku dan qodarullah keempat-empatnya keguruan semua. Ya Robbi... Terasa horor sekali. Padahal nih, diantara kami semua, kalo gak salah malah sebenarnya aku yang paling ribet hamilnya, karena keempat temenku itu kayaknya hamilnya ngebo alias doyan makan banget. Mereka makan apa saja masuk, bau masakan apapun tak masalah, makan dengan lahapnya, sedangkan aku? Hm... Malah kala itu aku bersyukur karena meski gak doyan makan, meski berat badan turun drastis seperti terjun bebas, meski wajahku cukup pucat dan bibir seperti membiru, tapi syukur Alhamdulillah, janinku masih selamat. Kini aku bersyukur diberi ujian gak doyan makan. Gak papa berjuang seperti orang mau mati saat perut lapar sekali, tidak karuan banget rasanya, tapi kemudian bingung apa yang bisa masuk ke mulut, tak apalah perjuangan itu terlalui, yang penting aku dan janinku tetap selamat. Amin.
Mendengar kabar satu persatu dari teman-temanku itu keguguran, cukup horor dan bikin deg-degan sebenarnya. Tapi kemudian aku mencoba untuk tetap tenang dan tambah berhati-hati dalam bertindak. Aku tidak berani naik motor sendiri kemanapun, alhamdulillah saat itu adikku Feri, dan bapakku, selalu siap siaga saat aku minta diantar ke sekolah tempat aku mebgajar atau kemanapun.
Tiap bulan kontrol di bidan dekat rumah, lalu setelah
HPL (hari perkiraan lahir) anak pertamaku itu adalah tanggal 8 September 2014, dan aku mulai mengajukan cuti per tanggal 1 September agar menghitungnya lebih mudah.
Kontrol ke bidan dekat rumah. Beliau bercerita bahwa orang yang HPL nya sama denganku, katanya sudah melahirkan. Bahkan banyak juga orang yang hpl nya lebih jauh dariku tapi mereka sudah melahirkan juga. Saat itu aku berpikir, aku mulai cuti tanggal 1 September, lah lahirnya nanti sajalah kalo aku sudah cuti, semoga bisa, semoga Allah mengabulkan doaku, amin.
Salah seorang teman guru yang mengajar di SMK Insan Mulia Kramat pernah berkata,
"Dede yang dikandungan sering diajak bicara Bu, dielus-elus, Insya Allah dia mendengar dan mengerti."
Masya Allah... Ternyata benar sekali. Aku terus berdoa kepada Allah dan juga mengajak di debay bicara,
"Nak, sabar dulu ya, kamu lahirnya nanti ya setelah melewati tanggal satu, soalnya Mama cutinya tanggal satu septembSe, tolong bantu Mama ya nak," sembari tak elus-elus, aku berkata pada janin yang ada di dalam rahimku.
Tanggal 1 September 2014, aku mulai cuti, dan alhamdulillah si dede, anak pertama kami itu lahir tanggal 3 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar