Senin, 21 Desember 2015

kisah hidup

Berpuluh tahun yang lalu, engkau tak mengira bahwa Allah menumbuhkan janin dalam rahimmu. Engkau hampir-hampir tak percaya bahwa calon bayi yang ada dalam perutmu itu tumbuh dan berkembang dengan baik.

Ibu, engkau yang saat itu memiliki anak berusia 20 bulan, yaitu kakakku, terpaksa bergerak seperti membawa dua beban, menggendong kakak, dan membawa janin dalam perutmu, tapi engkau tdk menyerah, engkau tidak mengeluh, engkau berusaha untuk menyayangi kami berdua. 

Ibu, saat usia kandunganmu memasuki 7 bulan, engkau dengan sigap loncat masuk ke sungai karena kakak sedang bermain di sungai dan engkau takut kakak akan terbawa arus. Engkau tak pedulikan keselematanmu demi menjaga anakmu yang masih batita, hingga setelah itu, janin yang ada di rahimmu seakan terdorong keluar dan ingin segera menghirup wanginya aroma dunia. 

Engkau melahirkanku dalam keadaan premature, dengan bantuan seorang dukun bayi yang ada di desa. Berat bayi tak sampai 2 kg, namun engkau merawatnya dengan penuh cinta. Engkau masukkan air hangat kedalam beberapa botol kaca bekas tempat sirup atau yang lainnya. Engkau letakkan botol2 itu tepat disamping kiri dan kanan tubuhku yang masih sangat ringkih. Metode yang sangat cerdas kurasa sebagai  ganti tabung inkubator. Kalau sudah mulai dingin air yang ada di botol2 itu, dengan sigap engkau pun menggantinya dengan air yang hangat lagi. Begitu seterusnya hingga tubuhku terasa lebih hangat dan nyaman.

Waktu terus bergulir nafsu makanku tergolong sangat banyak, hingga kemudian dinobatkan sebagai anak klemon (alias kelemunen alias kegemukan) hingga tak terlihat guratan leherku, wajah dan badanku seperti bersatu. Ujian yang engkau hadapi masih berlanjut. Aku yang kondisinya klemon sprti itu, terkena penyakit gatal-gatal terutama di bagian leher yang sangat besar itu dan juga pada bagian-bagian lainnya. Dengan telaten engkau mengobatiku, menggosokku dengan es batu agar rasa gatal dan panas itu bisa sedikit berkurang panasnya, dan juga menjemurku saat pagi hari.

Ibu, berbilang tahun kembali terlalui, aku menjadi anak yang sangat ringkih, sangat rawan terhadap berbagai macam penyakit, hingga engkau merasa sangat kerepotan karena kakak juga harus diberi perhatian. Saat usiaku 2,5 tahun, engkau kembali hamil dan bertambah repotlah keadaanya. Entah bagaimana persaanmu saat itu. Saat akhirnya engkau menitipkan pengasuhanku pada kakak perempuanmu yang sudah menjanda, yang biasa aku panggil dengan sebutan uwa.

Ibu, jujur ada selaksa kekecewaan dlm hatiku. Kenapa engkau tidak merawatku seperti kakakku? Yang kau curahkan sgala cintamu kepadanya? Apa karena aku anak yang gampang sakit? Apa karena aku anak yang lemah? Atau karena engkau sangat kerepotan jika harus mengurusku? Ah itu semua hanya pertanyaan masa lalu.

Ibu, aku belajar banyak dari sosok uwa. Bahkan, ketika sekarang aku sudah menjadi wanita dewasa, aku bersyukur karena saat itu engkau menitipkanku pada uwa. Uwa sosok wanita yang luar biasa. Ia merawatku dengan penuh kasih sayang. Beliau begitu telaten merawatku dengan segala keterbatasan dan keluguannya. Bahkan beliau rela blusukan mencari daun ini itu, untuk dijadikan obat ketika aku terkena penyakit gidu (gatal-gatal, besar-besar, yang hampir memenuhi seluruh tubuh). 

Aku bersyukur karena aku diberi kesempatan banyak belajar dari sosoknya. Sosok yang hampir tiap malam kucari, dan selalu kudapati sedang  melaksanakan shalat tahajud, hingga aku terkantuk-kantuk, duduk di sebelahnya dan berharap agar shalatnya segera berakhir dan kami bisa kembali tidur nyaman di kasur. Aku tidak berani tidur sendirian di kamar yang hanya diterangi dengan lampu ceplik kecil :).

Ibu, saat aku hampir menghadapi ujian akhir nasional SD, uwa memutuskan utk menikah dengan seorang duda beranak tiga. Ingin aku teriak sebenarnya, dan mengatakan dengan keras, bahwa aku tidak rela uwa menikah lagi. Aku takut uwa tidak sayang lagi padaku.

Keputusan ada ditangan uwa. Akhirnya beliau menikah, tinggal bersama suami dan anak-anak tirinya. Sedangkan aku "terpaksa" tinggal bersama keluarga kandungku.

Aku seperti orang asing di sana. Aku bingung bagaimana cara menyapa ibu, aku bingung bagaimana cara bergaul dengan kakak dan adikku, aku tak tahu cara meminta sesuatu pada bapak kandungku. Kerena sebelumnya hampir-hampir aku tak pernah akrab dengan mereka. 

Oh... Hidupku serasa di awang-awang, tak mampu menapak dengan jelas, dan hatiku hancur saat itu. Hancur karena aku merasa asing di dalam keluarga kandungku sendiri.

Masa UN SD tiba. Aku sama sekali tidak belajar. Biarlah nilaiku hancur sekalian, hancur brsama segala perasaanku yang remuk redam.

Pengumuman hasil UN pun keluar. Aku tak peduli dengan hasilnya, karena aku memang berharap hasilnya adalah hancur agar semua orang tahu bahwa hatiku hancur setelah pernikahan uwa dan suaminya, wkwkwk.

"Selamat ya Ri, nilai kamu naik dibanding latihan UN kemarin." Aku diam. 

Kok bisa? Akhirnya aku senyum-senyum sendiri karena tak habis pikir.

Masuk SMP, berkenalan dengan tmn2 baru, serasa masuk ke dalam telaga kautsar. Aku benar-benar senang berada di sekolah. Daripada di rumah aku seperti orang asing, lebih baik berada di sekolah bersama teman-teman yang menyenangkan. Jadilah aku sangat bersemangat berangkat ke skolah, bahkan bila perlu tak usaha ada liburnya saja, hehe.

Mungkin pendapatku itu bukanlah hal yang benar, tapi lagi-lagi Allah mengirimkan anugerahNya. Krn semangat sekolah dan belajarku tinggi, maka aku pun dapat merebut gelar juara kelas, berturut-turut, dan dengan itu semua, aku berharap perhatian bapak dan ibuku akan bertambah. Tapi ah...bagai punuk merindukan rembulan, tak pernah sekalipun kudapati kata "selamat" dari kedua orang tuaku. 

Ah sudah lah, tak usah membahas itu. Bahkan justru hal itu yang membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih tegar.

Aku kembali ke rumah ortuku, aku tidak boleh sakit, aku tak lagi tinggal dengan Uwa yang dengan telaten merawat diriku. Oleh karenanya, aku bertekad untuk tetap sehat dan sehat. Karena kalo aku sakit, siapa yang akan merawatku? Bahkan untuk tidak dimarahi saja sudah untung.
Ah sudahlah, itu kenangan yang sangat pahit buatku.

Aku cari info tentang ekstrakurikuler karate di beberapa sekolah, dan akhirnya aku memutuskan untuk ikut ekskul itu di SMP N 10 Kota tegal. Meski sebenarnya saya bukanlah siswa di sekolah itu, pihak ekskul memperbolehkannya. Alhamdulillah...
Waktu bergulir. Latihan fisik yang rutin, ternyata berdampak besat buatku. Aku tak lagi ringkih sprti dulu, aku lebih kuat dan lbh sehat, dan aku sgt suka.dg slogan "men sana in korpore sano", entahlah tulisan ini betul atau salah. Hehe.

Masuk SMA, waktu itu ibu berkata " er, mama pengin anak mama ana sing sekolah neng SMA 1 Tegal", lalu aku menjawab "ya ma, InsyaAllah mengko aku daftar neng  kana"_ & singkat cerita, aku pun sekolah di SMA favorit itu.

Masuk kuliah, aku serasa bebas luar biasa. Aku bebas mengatur segala sesuatunya, dan untuk menjaga keamanan dan keselamatan serta untuk dapat lebih mengkaji agama dengan lebih dalam disamping aktifitas kuliah, maka aku ngekos di kos binaan, kos qolbun salim, yang kemudian berganti dengan nama Basmala Indonesia, yang di asuh oleh ustadz terkenal, penulis fenomenal, ustadz habiburrahman el shirazy. Alhamdulillah banyak pelajaran dan ilmu yang aku dapat :).

Lulus kuliah, aku mendaftar ke sekolah-sekolah dan bimbel-bimbel sebagai guru fisika sbgaimana jurusan yg aku tempuh di tmpat kuliah. Alhamdulillah SMK Harapan bersama menerimaku. Itu adalah th pertama sekolah itu berdiri. Mengajar hanya 2 jam dalam seminggu, karena siswanya memang baru 1 kelas.

Tawaran beasiswa S2 sgt menggiurkan, tp aku tdk jd mndaftar krn nenek ingin aku ttp di tegal. Alhamdulillah satu tahun kemudian, aku diminta utk mengajar di politeknik Harapan bersama kota tegal, Insyaallah hingga saat ini :).

Ibu, tahun 2012 engkau jatuh sakit. Engkau dideteksi terkena penyakit stroke. Engkau dirawat selama seminggu di RS Kardinah, hingga engkau memutuskan utk pulang ke rumah, pengen rawat jalan saja. Di rumah berbagai macam terapi engkau jalani, hingga engkau kembali bisa berjalan meski hanya selangkah demi selangkah. Ibu, sungguh ketika kuteringat masa itu... air mataku selalu meluruh karena engkau sungguh luar biasa. Engkau yang telah melahirkanku, engkau yang telah berkorban banyak untukku, namun aku tak mampu berbuat banyak kala engkau kesakitan seperti itu, maafkn aku ibu...

Oktober Tahun 2013, tepatnya hari minggu, tanggal 6, engkau jatuh di kamar mandi pada dini hari. Siangnya, sepulang aku dari rumah alm sastrawan SN Ratmana, tangan ibu bergerak2 sendiri, entah kenapa, ibu pun tak tahu. Lama2 gerakannya makin kencang. Aku dan adik-adikku pun jadi bingung dan takut. Ya Robb... Ibu kenapa? Makin lama gerakkannya merambat sampai kaki. Kaki ibu bergerak-gerak hebat, lalu tubuhnya menggoncang, kepalanya memendal-mendal ke atas. 

Astaghfirullahal'adzim.... Ya Allah... Ibu kenapa? Hatiku kembali hancur dan ingin menangis dengan keras. Ibu!!!!! Para tetangga mulai berdatangan, kami berusaha menenangkan ibu. Aku mengelus-elus wajah ibu yang mulai miring agar kembali lurus, bibir ibu yang mulai agak mencong berusaha dengan keras aku luruskan kembali. Orang-orang di kamar makin banyak, ada yang membaca surat yasin, ada yang berebut minta maaf sama ibu, ada yang menangis sedu sedan. Ya Robb... Sembuhkan ibuku....

Sore hari, tepatnya hampir maghrib, ibu dibawa ke RSI Harapan anda. Ibu masuk di ruangan biasa. Setelah meminum obat, ibu terlihat tertidur pulas, pulas... Sekali. Mungkin beliau merasa sangat kelelahan akibat kejang2 tadi. Ya Robb... Aku mohon kepadaMu.... Semoga segala rasa sakit yang ibu alami akan menghapuskan sudah semua dosa beliau, aku mohon ya Robb...

Satu per satu saudara dan tetangga datang menjenguk ibu, termasuk calon ibu mertuaku. Saat itu, ibu terlihat sumringah dan bisa sedikit bercanda dengan calon ibu mertuaku, untuk menyangati, camerku itu pun berkata,
 "Ayo bu, semangat untuk sembuh, kan sebentar lagi anak ibu mau nikah sama anak saya" entah apa yang ada dalam benak ibu, apakah memang benar-benar bersemangat sembuh, atau malah justru tambah kepikiran? Ya Robb.... Ampuni semua salah ibu....

Hari rabu siang, 9 oktober 2013, ibu memanggil2 namaku, aku hanya menjawab,  "ya ma, aku neng kene" jawabku sambil mengganti pampers ibu yang sudah penuh dengan bantuan kakak yang baru datang jam 11 siang. Kalau ingat itu pun aku pengen sekali menangis. Ibu sudah merasa kedinginan sejak pagi, tapi aku tidak mampu menggantikan popoknya ibu sendirian, aku tidak kuat mengangkat badan ibu. Ya Robb...ampuni semua salahku itu...ampuni aku ya Robb... Ibu... Maafkan aku bu....
"Eri.. eri... Eri..."
"Ya ma... Kenapa? Aku neng kene..."
"Eri..."
Dan.... Wajah beliau seperti pias. Matanya melek, tapi seperti tidak melihat apa-apa, beliau sudah diam, lalu menutup mata, lalu keluar busa dari mulutnya. Ya Robb... Betapa besar ujian yang Kau berikan pada ibuku... Ampuni beliau ya Robb....

Malam harinya, ibu dibawa ke ruang ICU, aku sudah seperti pasrah, luluh lantak segala semangatku. Aku seperti sudah tak punya tenaga lagi.

Aku istirahat di rumah, berganti yang menjaga adalah adikku, Riza.
Pagi harinya, yaitu hari kamis, aku kembali ke rumah sakit. Aku duduk di sebelah ibuku, ratusan SMS ku kirim pada teman-teman memohon agar mereka mendoakan ibu. Ya Robb... lagi-lagi aku tak mmpu berbuat banyak untuk menolong ibu.

Sekitar jam 10 pagi, mba Anis teman FLP tegal datang menjenguk, sungguh jengukan itu sangat berarti bagiku. Ternyata, ketika ada saudara kita yang sedang menjenguk saudaranya yang sakit terutama yang berada di ICU, ternyata rasanya sangat besar, sangat berarti bagiku, ya Robb... Ampuni aku yang terkadang masih kurang ngeh terhadap hal berharga ini...

Malam jum'at. Aku masih menemani ibu. Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa, hanya mampu berdoa agar ibu diberikan yang terbaik olehNya. Malam itu hatiku seperti dikocok-kocok. Saat jam 11 malam, salah satu pasien di ruangan ICU yang seruangan dengan ibuku, ada yang meninggal dunia, innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Lalu disusul jam 12, jam 1, jam 2, dan jam 3, ya Robb... Sungguh aku sangat takut jikalau saat itu ibu diambil olehMu... Maka akupun berdoa agar ibu jangan diambil malam itu. Jika hal itu terjadi, mungkin aku tak akan kuat dan mungkin aku akan pingsan. Aku berdoa agar, ketikapun ibu akan diambil, tolong beri kesempatan sampai esok hari, saat saudara-saudarakuku yang lain datang kesini. Alhamdulillah Engkau mengabulkan doaku ya Robb...

Pagi harinya, aku terpaksa keluar dari RS untuk mengajar kelas Teknik Mesin dan Farmasi Politeknik Harapan Bersama kota Tegal. Aku tak lagi bisa menggeser jadwal kuliah itu karena jadwal aslinya adalah hari rabu kemarin, namun aku menggesernya jadi hari jumat karena saat itu aku tengah menjaga ibu.

Pukul 8 pagi, aku dikabari ada yang meninggal dunia lg, innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Lalu jam 10 pagi, innalillahi wa inna ilaihi rojiun.... Aku mengajar sampai jam 11.15, dan saat itu kakakku telpon agar aku segera kesana karena kondisi ibu makin menurun. Entah apa yang terjadi saat itu, tiba2 perutku sakit tak karuan, ingin BAB, dan akhirnya karena sudah tak mampu ditahan lagi, maka akupun segera lari ke kamar mandi. Kakak kembali telpon, mengabarkan bahwa ibu sudah koma. Aku brusaha mempercepat BABku, lalu segera keluar menuju tempat parkir. Lalu hpku bergetar lagi. Ibuku sudah menghembuskan nafas terakhirnya. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Aku hendak menuju RS, tapi sepeda motorku tidak bisa keluar karena gerbang kampus sudah digembok,  satpam sudah berangkat jum'atan, aku pun kebingungan harus bgaimana. Aku panggil sulis, salah satu mahasiswa farmasi yang sudah sangat akrab denganku. Aku cerita pada dia dan dia pun jadi ikut kebingungan. 

Tanpa pikir panjang aku keluar dr kampus, lalu menyetop salah satu mahasiswa farmasi yang sedang lewat di dpn kampus. Aku pinjam motornya, dan dengan kecepatan tinggi yang dikendarai oleh sulis, sdangkan aku mmbonceng di belakang, akhirnya kamipun sampai di RSI. Aku langsung masuk ke ruang ICU, kulihat ibu sudah dibalut kain putih, dibuka wajahnya, dan sungguh, aku melihat kedamaian yg mendalam disana. Ya Robb... Semoga ibu bahagia di sana. Amin

 Tegal, 11 oktober 2013. dua belas hari sebelum akad pernikahanku, engkau meninggalkan kami dengan segala restu yang telah engkau berikan untuk kebahagiaan kami. Terimakasih banyak ibu, terimakasih banyak Mama.

 I love u mom.
Selamat hari ibu... You are the best mom for me. :)

(Abaikan segala typo alias salah ketik. Karena tulisan ini dibuat dengan emosi yang cukup meluap karena teringat sosok sang ibu yang sungguh luar biasa. Semoga surga bagimu, ibu. Amin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar