Selasa, 29 Desember 2015

Bapak Paruh Baya


Hari Senin, di sebuah tempat, di suatu waktu.
Seorang bapak duduk di sebelahku, lalu ia bertanya, 
“Kerja di mana mba?”
Sedikit senyum aku sunggingkan atas keramahan bapak tadi, 
“Di Politeknik Harber Tegal Pak”,
Bapak di sebelahku seperti sangat tertarik, “Dulu kuliah di mana mba?”
“UNNES, Semarang,” jawabku masih dengan senyuman.
“Ngambilnya?” tanya beliau lagi,
“Fisika,” jawabku.
“Lulus tahun berapa mba?” Bapak itu terlihat makin antusias.
“2010,”
“Waktu itu langsung ngajar di Poltek atau gimana mba?”
“Saya ngajar di sana mulai tahun 2011 Pak, jadi satu tahun setelah saya lulus,”
“Oh....” Bapak itu manggut-manggut, “Tidak lanjut S2 mba?” tanyanya kemudian.
“Insya Allah tahun depan Pak, ni lagi ancang-ancang dulu,” jawabku sambil menerawang ke arah depan.
“Nanti tahun 2016 katanya ada pembukaan CPNS besar-besaran di Tegal, mba tidak coba daftar saja?” tanya Bapak itu lagi.
“Hm... iya sih, katanya gitu, tapi... belum tahu juga kan yang dibutuhkan untuk formasi apa?” jawabku sedikit bingung.
“Iya juga sih...” Bapak itu mengiyakan.
Aku perhatikan seragam yang dipakainya. Ada sebuah tulisan di belakang baju itu. Aku mencoba untuk membacanya tapi... cukup sulit karena posisi bapak tersebut duduk menghadap ke arah yang sama denganku. Sepertinya sih tulisan itu seperti mengarah pada profesi yang ada hubungannya dengan listrik.
“Maaf Pak, yang kuliah di Poltek anaknya ya?” kuberanikan diri untuk bertanya seperti itu, lalu bapak tersebut tersenyum,
“Saya mba” jawabnya masih dengan senyam senyum sendiri.
“Jurusan apa Pak?” kali ini aku yang jadi penasaran.
“Tentang listrik,”
“Oh... elektro...” ternyata tebakanku benar, bapak ini bekerja di tempat yang ada hubungannya dengan listrik, lalu sekarang beliau kuliah di jurusan elektro, mungkin untuk menambah kemampuan dan capabilitasnya di dunia kelistrikan dan mungkin juga sebagai salah satu penunjang untuk kenaikan jabatan. Tapi aku salut, usianya mungkin tak terpaut jauh dengan usia Bapakku, tapi beliau masih bersemangat untuk cari ilmu dengan berkuliah di poltek, tentu di kelas karyawan yang masuknya pada malam hari.
“Semester berapa Pak?”
“Semester lima,” jawab Bapak itu seperti agak malu-malu.
“Ya... seneng sih mba, banyak temen baru, masih muda-muda, bisa tambah relasi, tambah jaringan juga,” kali ini kuperhatikan bapak itu menerawang ke arah depan.
“Kalau anak saya juga kuliah mba, tapi S1, nanti juga pengen sekalian tak teruskan ke S2” terang Bapak yang belum kutahu namanya itu.
“Ya begini mba, harus bagi-bagi, untuk biaya kuliah anak, kuliah saya juga” lanjut Bapak itu yang diam-diam membuatku kagum pada semangatnya. Tak semua orang mampu berpikir dan bersemangat seperti Bapak itu.
“Ya sudah mba, saya duluan.” Bapak itu bangkit dan berlalu dari hadapanku.
“Oh nggih pak, monggo monggo,” jawabku dengan senyum merekah.
Ingin rasanya aku bertanya siapa namanya. Tapi ah, beliau sepertinya sangat buru-buru, mungkin mau masuk kerja lagi. Toh kalau aku pengen tahu namanya aku bisa cari di daftar nama mahasiswa Teknik Elektro kelas ekstensi semester 5.
J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar